Bagaimana pandangan islam terhadap kerja?
Dr.M Quraish Shihab menyatakan bahwa kerja merupakan sebuah aktifitas yang nenggunakan daya yang di anugrahkan Allah swt. Lebih jauh pakar Tafsir asal Rappang Sulawesi Selatan ini menuturkan bahwa secara garis besar, manusia dianugrahi empat daya pokok.sbb:
1. Daya fisik yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan.
2. Daya fikir yang mendorong pemiliknya berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan.
3.Daya kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal,mengekspresikan keindahan, beriman dan mesra serta berhubungan dengan Allah Sang Pencipta.
4.Daya hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan dan menanggulangi kesulitan.
Penggunaan salah satu dari daya-daya tersebut, betapapun sederhananya dapat melahirkan karya,atau amal, dalam bahasa Al-Quran.Saudara tidak akan hidup tanpa menggunakan-paling sedikit-salah satu dari daya-daya itu. Untuk melangkah, anda memerlukan daya fisik, paling tidak guna menghadapi daya tarik bumi. Karena itu, kerja adalah keniscayaan. Namun anda harus ingat bahwa kerja yang dituntut-Nya bukan asal kerja, tetapi kerja yang shalih. Shalih berarti," yang sesuai, bermanfaat lagi memenuhi syarat-syarat dan nilai-nilaiNya."
Karena itu yang terpenting bagi anda saat ini adalah bagaimana bekerja dengan sunguh-sungguh,apapun profesi dan bidang garap yang tengah Anda tekuni. Usahakan semuanya pure karena Allah swt.Dan semata-mata hanya memenuhi perintahny-Nya untuk bekerja.Jika ini anda lakukan, maka Anda tidak hanya mendapatkan penghasilan yang Anda cita-citakan- tentu dengan gaji yang gedhe-tetapi juga Anda akan mendapat pahala. Jadi kerja plus.Honor dapat,pahala juga dapat.
Atau kalau perlu Anda harus berusaha sekuat tenaga mencoba menghadirkan Allah swt. Ketika anda tengah bekerja.Cobalah Anda menanamkan keyakinan bahwa kerja adalah ibadah, kerja adalah perintah,dan karena itu Dia senantiasa mengawasi.Jika Anda sanggup, maka penulis yakin, bahwa Anda akan selalu bekerja dengan baik, tidak korup, tidak nakalan, juga tidak suka ngatok ke atasan.
Saya teringat sebuah cerita yang dituturkan oleh Maulan jalaluddin Rumi dalam karya monumentalnya yang bertajuk " fihi maa fihi." Sebuah cerita yang menggambarkan proses tercerahnya spiritualitas justru ketika berada dalam aktifitas kerja yang padat.
Ceritanya begini.
Suatu ketika sang Amir berkata,"siang dan malam hati dan jiwaku bermaksud sungguh-sungguh melayani Allah swt.Tetapi karena tanggung jawab pada pekerjaanku,aku tidak punya waktu beribadah."
Rumi menjawab,"Tanggung jawabmu itu merupakan pekerjaan yang dilakukan demi Allah,karena kamu bekerja untuk menciptakan kedamaian dan keamanan bagi negerimu.Kamu korbankan dirimu,hartamu,waktumu,sehingga hati beberapa orang akan terangkat begitu damai untuk mematuhi kehendak Allah.Jadi, ini juga pekerjaan yang bagus.Allah telah mendorongmu untuk melakukan kerja semacam itu,dan kecintaanmu yang besar terhadap apa yang kamu lakukan adalah bukti rahmat Allah.Akan tetapi,jika kecintaanmu pada pekerjaan melemah,akan menjadi pertanda anugrah yang ditolak, karena Allah hanya membimbing mereka yang layak melakukan sikap-sikap yang benar,yang berdampak pada peningkatan derajat spiritual."
Demikianlah Rumi.Ia memang seorang sufi yang mempunyai kedekatan spiritual kepada Allah yang begitu luar biasa, sehingga kehadiran-Nya benar-benar mampu dirasakannya tidak hanya pada saat berada di ruang ibadah saja,namun ia juga merasakan pencerahan spiritual bahwa pada saat aktifitas kerja tengah padat.Krena itu ,meski kondisi pada saat aktifitas kerja meningkat, seharusnya manusia mampu mendapatkan--pinjam istilah Dr.Azhari Kautsar Nor-"pembakaran"spiritual,sehingga setiap keringat yang menetes telah melahirkan pembersihan jiwa dan setiap detak jantungnya-ketika bekerja-senantiasa mendapat nilai pahala dari Allah swt.
Dr.M Quraish Shihab menyatakan bahwa kerja merupakan sebuah aktifitas yang nenggunakan daya yang di anugrahkan Allah swt. Lebih jauh pakar Tafsir asal Rappang Sulawesi Selatan ini menuturkan bahwa secara garis besar, manusia dianugrahi empat daya pokok.sbb:
1. Daya fisik yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan.
2. Daya fikir yang mendorong pemiliknya berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan.
3.Daya kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal,mengekspresikan keindahan, beriman dan mesra serta berhubungan dengan Allah Sang Pencipta.
4.Daya hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan dan menanggulangi kesulitan.
Penggunaan salah satu dari daya-daya tersebut, betapapun sederhananya dapat melahirkan karya,atau amal, dalam bahasa Al-Quran.Saudara tidak akan hidup tanpa menggunakan-paling sedikit-salah satu dari daya-daya itu. Untuk melangkah, anda memerlukan daya fisik, paling tidak guna menghadapi daya tarik bumi. Karena itu, kerja adalah keniscayaan. Namun anda harus ingat bahwa kerja yang dituntut-Nya bukan asal kerja, tetapi kerja yang shalih. Shalih berarti," yang sesuai, bermanfaat lagi memenuhi syarat-syarat dan nilai-nilaiNya."
Karena itu yang terpenting bagi anda saat ini adalah bagaimana bekerja dengan sunguh-sungguh,apapun profesi dan bidang garap yang tengah Anda tekuni. Usahakan semuanya pure karena Allah swt.Dan semata-mata hanya memenuhi perintahny-Nya untuk bekerja.Jika ini anda lakukan, maka Anda tidak hanya mendapatkan penghasilan yang Anda cita-citakan- tentu dengan gaji yang gedhe-tetapi juga Anda akan mendapat pahala. Jadi kerja plus.Honor dapat,pahala juga dapat.
Atau kalau perlu Anda harus berusaha sekuat tenaga mencoba menghadirkan Allah swt. Ketika anda tengah bekerja.Cobalah Anda menanamkan keyakinan bahwa kerja adalah ibadah, kerja adalah perintah,dan karena itu Dia senantiasa mengawasi.Jika Anda sanggup, maka penulis yakin, bahwa Anda akan selalu bekerja dengan baik, tidak korup, tidak nakalan, juga tidak suka ngatok ke atasan.
Saya teringat sebuah cerita yang dituturkan oleh Maulan jalaluddin Rumi dalam karya monumentalnya yang bertajuk " fihi maa fihi." Sebuah cerita yang menggambarkan proses tercerahnya spiritualitas justru ketika berada dalam aktifitas kerja yang padat.
Ceritanya begini.
Suatu ketika sang Amir berkata,"siang dan malam hati dan jiwaku bermaksud sungguh-sungguh melayani Allah swt.Tetapi karena tanggung jawab pada pekerjaanku,aku tidak punya waktu beribadah."
Rumi menjawab,"Tanggung jawabmu itu merupakan pekerjaan yang dilakukan demi Allah,karena kamu bekerja untuk menciptakan kedamaian dan keamanan bagi negerimu.Kamu korbankan dirimu,hartamu,waktumu,sehingga hati beberapa orang akan terangkat begitu damai untuk mematuhi kehendak Allah.Jadi, ini juga pekerjaan yang bagus.Allah telah mendorongmu untuk melakukan kerja semacam itu,dan kecintaanmu yang besar terhadap apa yang kamu lakukan adalah bukti rahmat Allah.Akan tetapi,jika kecintaanmu pada pekerjaan melemah,akan menjadi pertanda anugrah yang ditolak, karena Allah hanya membimbing mereka yang layak melakukan sikap-sikap yang benar,yang berdampak pada peningkatan derajat spiritual."
Demikianlah Rumi.Ia memang seorang sufi yang mempunyai kedekatan spiritual kepada Allah yang begitu luar biasa, sehingga kehadiran-Nya benar-benar mampu dirasakannya tidak hanya pada saat berada di ruang ibadah saja,namun ia juga merasakan pencerahan spiritual bahwa pada saat aktifitas kerja tengah padat.Krena itu ,meski kondisi pada saat aktifitas kerja meningkat, seharusnya manusia mampu mendapatkan--pinjam istilah Dr.Azhari Kautsar Nor-"pembakaran"spiritual,sehingga setiap keringat yang menetes telah melahirkan pembersihan jiwa dan setiap detak jantungnya-ketika bekerja-senantiasa mendapat nilai pahala dari Allah swt.

Judul: lalu apa sih yang dimaksud dengan kerja ?
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Oktober 24, 2017
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Oktober 24, 2017

0 komentar:
Posting Komentar